Pages

4/10/19

Bullying.......



Baru-baru ini lagi dan lagi terjadi kasus bullying yang sangat menyita perhatian masyarakat kita, bermula dari cuitan seorang akun yang mengisahkan kejadian secara detail lengkap dengan foto pelaku dan korban. Parahnya, ada seorang pelaku yang dia adalah seorang wanita namun melecehkan sesama gender nya sendiri, dengan cara merusak alat kelamin si korban secara paksa.

Mirisnya, disaat para pelaku diperiksa polisi, malah mereka asyik berselfie ria seakan-akan hal yang mereka lakukan bukan suatu tindakan kejahatan sama sekali, dengan embel-embel berlindung dibalik kekuasaan ortu mereka.

Sebenarnya, tidak hanya kasus Audrey aja, tapi masih banyak kasus-kasus bully lainnya yang tidak terekspos media, karena sebagian mengganggap itu hal wajar, atau kurangnya pengetahuan mereka akan efek bullying, atau atas dasar anak dibawah umur banyak kasus yang diselesaikan secara damai tanpa adanya support bagi korban dan konseling dan mengakibatkan trauma psikis korban tidak akan sembuh.

Sebagai seorang ibu yang mempunyai anak yang sudah bersekolah, hal ini buat saya takut sekaligus prihatin. Takut karena bisa saja hal itu menimpa anak saya dan prihatin karena lemahnya hukum dan tidak adanya support dari pihak sekolah maupun instansi terkait buat menyelesaikan masalah seperti ini.

Sedikit cerita, anak saya pernah mengeluh dadanya sakit, saat saya tanya kenapa, dia menjawab bahwa dadanya dipukul oleh teman sekolahnya. Saya coba jelaskan kalo ada kejadian seperti itu lagi, segera lapor ke guru dan segera jauhi, karena tidak menutup kemungkinan hal itu terulang lagi. 
Karena saya tau bagaimana sistem nya, hal pemukulan seperti itu akan dianggap wajar oleh sebagian guru dan ortu, kalo saya laporkan saya akan dianggap memanjakan anak dan membela, dan memang belum tentu anak saya tidak bersalah juga. Karena tidak adanya pengawasan, jadi saya juga tidak bisa menuntut ini itu.

Sebenarnya itu semua kembali pada orang tuanya, bagaimana sikap ortu dalam menindak hal kekerasan yang dilakukan disekolah. Kita harus memberi tahu pada anak batasan apa saja yang tidka boleh dia lakukan disekolah dan merugikan teman sekolahnya.
Batasan itu diantara lain, pemukulan fisik maupun verbal, verbal dalam hal ini mengolok-olok teman.
Tanpa kita sadari mengolok itupun termasuk dari bagian bullying. Kita tahu perasaan anak itu lemah dan terlalu peka. Sedikit saja kekerasan verbal yang menyakiti atau membuat hatinya tidak enak, itu juga akan mengganggu psikis nya selama disekolah.
Banyak kasus bully secara verbal yang membuat si anak tidak mau sekolah, tidak mau makan, nilai pelajaran anjlok karena terus memikirkan perkataan teman-temannya, dan masih banyak lagi.
Namun yang buat miris, dari pihak sekolah pun seolah mengganggap hal kaya gini tidak ada atau dianggap wajar. Apakah wajar jika itu dilakukan anak yang sudah berusia katakanlah 15 tahun?
Anak 15 tahun sudah bisa diajak berbicara, sudah bisa diberitahu akan hal baik dan buruk, butuhnya bimbingan untuk meluruskan akal nya supaya tidak salah.
Untuk itulah, selain konseling dirumah yaitu peran ortu dalam membimbing anak, dari pihak sekolah ataupun instansi terkait harus aware dan woke akan hal kaya gini. Harus disediakannya wadah atau forum untuk penerimaan murid-murid bullying dan adanya hukuman atau sangsi dari pihak sekolah untuk anak yang melakukan tindakan bullying. Agar hal ini ada efek jera dan ketakutan untuk tidak melakukan nya lagi. Dan korban bully pun merasa save karena merasa ada yang melindungi psikis mereka dan adanya konsel healing dari akibat yang disebabkan bully itu sendiri.

Pihak sekolah harus bekerjasama bersama pemerintah dan orang tua untuk segera bisa membentuk forum khusus dan mengkaji langkah-langkah apa saja yang tepat untuk membuat bullying tidak terjadi lagi didalam area sekolah maupun diluar sekolah.
Adanya sosialisasi akan kasus bullying mulai dari penyebab bully itu sering terjadi apa, efeknya yang tercipta apa dan bagaimana menyelesaikan kasus bully jika itu sudah melampaui batas. Perlunya perlindungan hukum untuk korban dan pengajian pasal tentang kekerasan anak dibawah umur yang sebenarnya belum berfungsi secara maksimal dan masih dianggap pasal karet.

Kalo dari saya, berharap bullying menjadi perhatian utama juga bagi pemerintah untuk bisa lebih speak up dan aware dan sama-sama mencari penyelesaian nya. Karena seperti yang kita tau, era globalisasi tidak hanya memberikan dampak positif namun untuk anak-anak era globalisasi bisa memberikan dampak negatif jika mereka dibiarkan menikmati tanpa diberi arahan.
Mulai dari mana? Mulailah dari rumah, karena bagaimanapun peran ortu sangat penting menjamin membentuk akal anak lebih baik dan pribadi yang bijak. Lalu pemerintah memberikan sosialisasi akan bullying ke sekolah-sekolah, bisa dengan cara menambah kan pelajaran khusus bullying dalam mata pelajaran sekolah dan harus dimulai dari sejak dini, ini sama halnya dengan edukasi seks, edukasi tentang psikologi trauma bully juga perlu dipelajari anak-anak, agar mereka tahu apa sih itu bully dan efeknya. Dan berharap ditiap sekolah menyiapakan wadah kelas/forum khusus menerima info-info tentang kasus bully yang terjadi, memberikan perlindungan dan kenyamanan bagi korban bully, dan adanya tindakan tegas dari pihak sekolah ataupun pemerintah dalam menyikapi pelaku bully tanpa memandang status kekuasaan ortu pelaku dan usia pelaku.
Dan perlu adanya pengajian ulang lagi soal hukuman bagi pelaku bully, entah itu sangsi sel atau rehabilitasi atau sangsi sosial.

Karena jujur berkaca dari kasus Audrey, siapa yang rugi? Pasti ujung-ujungnya korban. Karena tidak adanya support dari pihak terkait, lemahnya hukum bagi pelaku bully terkait usia dibawah umur, hal yang masih dianggap wajar dan sepele. Sedangkan kekerasan fisik yang dilakukan pelaku bukanlah hal sepele lagi bahkan sampai merusak kemaluan sesama gendernya, itu sudah diluar batas kewajaran perilaku seorang anak.

Semoga kedepannya kasus bully lebih bisa dipandang dan untuk korban-korban bully harus berani speak up, jangan menyerah karena yakin banyak banget yang mendukung kamu.

Dan berharap anak-anak kita dijauhkan dari kasus bully sesama teman, dan anak kita pun dijauhkan dari perilaku seperti itu. Aamiin yaa robbal alamin,,


PS : saat ini banyak dukungan yang mengalir untuk Audrey, Alhamdulillah. Semoga kasus bully bukan hanya Audrey saja yang diungkap dana diselesaikan. Untuk kasus-kasus bully yang masih dibawah permukaan, semoga cepat terungkap, berani speak up, jangan diam jika melihat kasus bully, agar aduan dan keprihatinan kita bisa didengar pemerintah dan akan ada perubahan yang lebih baik.
Sebagai bentuk dukungan kalian, please tanda tangan petisi dibawah ini dan semoga makin banyak Audrey lainnya yang berani speak up akan kasus bully di Indonesia..





No comments:

Post a Comment