Pages

6/26/23

Pentingnya Punya Perspektif Lain

 Akhir-akhir ini, semua medsos, terutama medsos ku isinya berita perselingkuhan pasangan artis. Semuanya pada heboh dan sebenarnya lumayan bete, karena tiap buka medsos isi portalnya berita itu melulu. Memang sih kalau sudah menyangkut kata 'selingkuh' itu bawaanya emosi ya dan gatal pengen ikut cuap-cuap juga. Tapi kalau udah berhari-hari dan terus-terusan diomongin apa tidak bosan ya? Apalagi ditambah si artisnya keep silent, yaa semakin heboh lah itu berita serta gosip dan opini publik makin merajalela di kolom komentar tiap akun portal berita.

Sebenarnya yang cukup buat aku risau disini adalah para obrolan netizen di kolom komentar. Aku tahu harusnya aku skip aja kan yaa kalau aku sebel, tapi kalau tiap hari selalu terlihat, ya mau tidak mau aku mau bersuara juga.

Dari berita itu, banyak pihak/netizen maha benar ini mencemooh bahkan menghakimi sikap yang diambil oleh pasangan itu dalam menghadapi masalah perselingkuhan itu. Aku disini tidak mau terlalu meng-highlight kasusnya, tapi aku mau sedikit memberikan opiniku mengenai cemohoon dan opini liar netizen ini.

Memang udah naluri sih (aku pun begitu), setiap kita mendengar atau melihat sesuatu yang mungkin di luar nalar kita, otak kita akan langsung memberikan opini yang menurut kita benar, mengeluarkannya baik dalam bentuk sikap atau perkataan. Aku tidak tahu ya dalam hal psikologi ini disebut apa, tapi memang itu terjadi spontan tanpa kita berpikir panjang bahwa opini atau sikap kita itu akan merugikan atau menyakiti orang lain. Yang penting kita bersuara mengungkapkan aja dulu, biar hati ini plong.

Tapi sebenarnya opini yang kita ungkapkan itu juga bisa menyakiti atau membuat pihak lain down dan hancur. Bisa saja cemoohan dan cibiran kita melukai perasaan orang itu dan mulai mempertanyakan apakah keputusannya sudah salah di mata publik.

Tanpa kita sadari, kita yang hanya orang luar, hanya sebagai netizen, pihak asing, masuk dalam ranah pribadi mereka, menghakimi keputusan pribadi mereka, mengolok cara penyelesaian masalah pribadi mereka, dan menghakiminya bertubi-tubi dalam bentuk perkataan. Ya ampun aku mengetik inipun, hatiku bergetar, memikirkan bagaimana kalau ini terjadi padaku. 
Well sekedar intermezzo, dulu pun aku pernah berada di posisi ini, dimana aku mempunya opini berbeda dari orang lain di salah satu medsosku, lalu netizen yang tidak kenal aku beramai-ramai menghakimiku, memberikan hate speech sampai mengorek-orek kehidupan pribadiku di medsos lain.

Jadi aku mungkin bisa relate dalam keadaan seperti itu. Bagaimana bisa seseorang asing yang tidak pernah ketemu, tidak saling kenal tapi berani sekali menghakimi apa yang menjadi keputusanku dalam menyelesaikan masalah pribadi?

Inilah mengapa aku menekankan, pentingnya untuk kita mempunyai perspektif/opini lain dalam otak kita sebelum kita ingin mulai berkomentar. Aku pernah menonton suatu podcast, aku lupa pembicaranya, tapi isi podcastnya sangat menarik. Waktu itu dia membahas soal kasus Chlidfree-nya Gitasav. Dan dia memberikan suatu opini yang menurutku sangat bijak. Dimana dia tidak menghakimi keputusan Gita tapi dia mencoba kita ikut menggali kenapa Gita sampai ingin melakukan Childfree, kita dituntun untuk belajar cara mengendalikan otak berpikir liar kita dan menggunakan perspektif lain sebagai jalan agar kita tidak terburu-buru dalam berkomentar negatif atau beropini liar mengikuti emosi dan ego saja.

Kita tidak setuju dengan keputusan orang lain, itu sah-sah saja. Tapi daripada menghakimi dan mencemooh keputusannya, lebih baik kita jalankan dulu nalar berpikir kita. Sebelum mengeluarkan opini kita, kita gali dulu opini orang itu, kenapa dia mengambil keputusan itu, apa ada perspektif lain yang mengikuti keputusannya itu. Kalau memang sudah digali dan kita merasa tetap salah, tidak juga langsung menghakiminya di publik, tapi coba cari lagi perspektif lain untuk cara penyampaian ketidaksetujuan kita itu, bagaimana agar tidak saling menyakiti satu sama lain.

Sulit sih memang, aku pun masih belajar akan hal ini. Tapi kalau tidak dimulai dari sekarang kapan bisa berubah? Selamanya akan terus berkomentar jahat di medsos? Selamanya akan menutup mata terus dan tidak mau melihat perspektif orang lain? Selamanya akan merasa opini diri ini selalu dan paling benar?

Ini hanya keresahanku saja, efek dari terlalu seringnya melihat berita itu di mana-mana, dan baca komentar negatif itu bener-bener menguras emosi dan pikiran sih, hehe. Tapi dari situ aku akhirnya menulis lagi dan menuangkannya disini.

Kalau ditanya, kenapa sih hal kaya gini aja bikin aku resah? Mungkin karena otakku akhir-akhir ini diisi sama filosofi ya jadi kalau melihat sesuatu atau bacain sesuatu yang memicu otak aku untuk berpikir, aku jadi pengen langsung membahasnya lebih dalam.
Apapun itu, dari sini aku harap ada yang bisa dipetik ilmunya. Aku masih belajar, kamu pun harusnya juga ikut belajar. Aku masih akan terus berproses dan aku harap kamu juga ikut berproses lewat tulisan ini.

Begitu saja, bye.

2/7/23

Privasi yang tidak Privacy

Beberapa hari yang lalu, aku melihat sebuah postingan random di beranda IG ku, yaitu video orang lagi merekam diam-diam pasangan yang lagi mesra di motor. Sebenarnya udah lama banget sih mau bahas beginian, tapi selalu lupa dan terlewat gitu aja. Nah kemarin karena ga sengaja terlihat postingan video ini dan mumpung aku lagi ga terlalu sibuk jadi yaudah mari kita bahas di sini..

Kalau mau dihitung, sebenarnya banyaaak banget video-video random orang yang diam-diam merekam hal begituan. Mau di tempat sepi, tempat rame, tempat privasi sekalipun ada ajaa, like dude, kamu ngapain coba merekam orang lagi mesraan ditempat privasi orang yang kamu rekam itu. Pada akhirnya juga si tukang perekam ini mungkin ga tau aslinya pasangan itu gimana, mana tau mereka adalah pasangan yang legal, yang hanya ingin menikmati waktu berdua mereka. Tapi karena kebodohan para si perekam ini, seenaknya merekam sesuatu yang privasi lalu disebarluaskan hanya demi viral aja atau merasa diri paling suci bersih tidak bernoda. Secara tidak langsung alasan si perekam juga adalah memperlihatkan dirinya pada khalayak umum bahwa dia adalah polisi moral yang lagi menghakimi para pasangan berdosa ini dan mengajak masyarakat lainnya untuk ikut menghakimi si pasangan ini. Cuih, najis.

Zaman sekarang yang memang media digital itu hype dan akan terus bertumbuh berkembang, apapun itu yang kita lakukan rasanya akan terus diawasi dan kemungkinan akan diviralkan sangat mungkin terjadi. Contohnya adalah kemesraan di publik. Banyak tuh aku lihat video-video kemesraan orang-orang yang direkam diam-diam lalu disebarluaskan, dengan maksud dan tujuan supaya nih pasangan dihakimi sama seluruh rakyat se-Indonesia. Padahal dibalik itu banyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi, diantaranya mungkin saja mereka pasangan legal, pasangan yang sah dimata hukum dan agama, who knows. Terus dengan membabi buta setelah melihat postingan tersebut masyarakat luas ramai-ramai menghakimi, membully bahkan melakukan sangsi sosial yang terkadang saya hanya melongo shock dengan sikap tersebut. Mungkin kalian pernah lihat, pasangan yang dengan sengaja diintip lalu dipergoki dan dieksekusi secara massal dengan cara diarak tanpa busana bahkan dipukuli secara sadis? Inilah satu contoh kebodohan dari sekian banyaknya kebodohan masyarakat kita yang mudah terprovokasi hanya karena melihat dari satu sisi video saja. Aku pun pernah diposisi itu, posisi mudah terprovokasi, hanya karena melihat satu video tak senonoh lalu langsung menghakimi pasangan tersebut tanpa mencari tahu ataupun mencoba di posisi pasangan tersebut yang sudah dihakimi massal.
Namun seiring waktu, persepsi dan pemikiranku berubah. Aku melihat fenomena video rekaman diam-diam ini sangat tidak manusiawi dan melanggar privasi manusia. Kita jadi merasa was-was jika melakukan kemesraan didepan publik, even itu dengan pasangan. Malah, aku melihat ada dampak yang cukup buat aku kesal. Karena fenomena perekaman diam-diam ada satu temanku yang mengatakan dia takut menunjukkan kemesraan di ruang publik, takut direkam trus diviralkan. Bahkan dia bilang untuk biasa-biasa saja kalau didepan umum itu, ga usah terlalu mesra, mesra cukup dikamar aja. Whaatt??

See, inilah yang bikin aku harus menulis keresahan ini disini. Karena kita tau, begitu besar side effect dari fenomena perekaman diam-diam ini. Mulai dari penghakiman massal hingga merubah pola pikir masyarakat awam mengenai hal ini.
Aku harap dari sedikit tulisan yang aku bagikan ini, ada suatu perubahan mindset kalian mengenai hal ini. Mengakhiri tulisan ini, kalian yang punya pasangan sah, jangan ragu buat umbar kemesraan, itu hak kalian, itu privasi kalian, tidak ada yang bisa merusak privasi itu sendiri. Dan kalaupun kemesraan itu dilakukan bukan pasangan sah, bukan hak kalian untuk menghakimi mereka secara masal dan membabi buta, bukan ranah kalian juga untuk memvideokan privasi hubungan mereka lalu disebarluaskan hanya untuk memberi sangsi sosial pada mereka. 

Sekian dan terima gaji..