Pages

2/7/23

Privasi yang tidak Privacy

Beberapa hari yang lalu, aku melihat sebuah postingan random di beranda IG ku, yaitu video orang lagi merekam diam-diam pasangan yang lagi mesra di motor. Sebenarnya udah lama banget sih mau bahas beginian, tapi selalu lupa dan terlewat gitu aja. Nah kemarin karena ga sengaja terlihat postingan video ini dan mumpung aku lagi ga terlalu sibuk jadi yaudah mari kita bahas di sini..

Kalau mau dihitung, sebenarnya banyaaak banget video-video random orang yang diam-diam merekam hal begituan. Mau di tempat sepi, tempat rame, tempat privasi sekalipun ada ajaa, like dude, kamu ngapain coba merekam orang lagi mesraan ditempat privasi orang yang kamu rekam itu. Pada akhirnya juga si tukang perekam ini mungkin ga tau aslinya pasangan itu gimana, mana tau mereka adalah pasangan yang legal, yang hanya ingin menikmati waktu berdua mereka. Tapi karena kebodohan para si perekam ini, seenaknya merekam sesuatu yang privasi lalu disebarluaskan hanya demi viral aja atau merasa diri paling suci bersih tidak bernoda. Secara tidak langsung alasan si perekam juga adalah memperlihatkan dirinya pada khalayak umum bahwa dia adalah polisi moral yang lagi menghakimi para pasangan berdosa ini dan mengajak masyarakat lainnya untuk ikut menghakimi si pasangan ini. Cuih, najis.

Zaman sekarang yang memang media digital itu hype dan akan terus bertumbuh berkembang, apapun itu yang kita lakukan rasanya akan terus diawasi dan kemungkinan akan diviralkan sangat mungkin terjadi. Contohnya adalah kemesraan di publik. Banyak tuh aku lihat video-video kemesraan orang-orang yang direkam diam-diam lalu disebarluaskan, dengan maksud dan tujuan supaya nih pasangan dihakimi sama seluruh rakyat se-Indonesia. Padahal dibalik itu banyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi, diantaranya mungkin saja mereka pasangan legal, pasangan yang sah dimata hukum dan agama, who knows. Terus dengan membabi buta setelah melihat postingan tersebut masyarakat luas ramai-ramai menghakimi, membully bahkan melakukan sangsi sosial yang terkadang saya hanya melongo shock dengan sikap tersebut. Mungkin kalian pernah lihat, pasangan yang dengan sengaja diintip lalu dipergoki dan dieksekusi secara massal dengan cara diarak tanpa busana bahkan dipukuli secara sadis? Inilah satu contoh kebodohan dari sekian banyaknya kebodohan masyarakat kita yang mudah terprovokasi hanya karena melihat dari satu sisi video saja. Aku pun pernah diposisi itu, posisi mudah terprovokasi, hanya karena melihat satu video tak senonoh lalu langsung menghakimi pasangan tersebut tanpa mencari tahu ataupun mencoba di posisi pasangan tersebut yang sudah dihakimi massal.
Namun seiring waktu, persepsi dan pemikiranku berubah. Aku melihat fenomena video rekaman diam-diam ini sangat tidak manusiawi dan melanggar privasi manusia. Kita jadi merasa was-was jika melakukan kemesraan didepan publik, even itu dengan pasangan. Malah, aku melihat ada dampak yang cukup buat aku kesal. Karena fenomena perekaman diam-diam ada satu temanku yang mengatakan dia takut menunjukkan kemesraan di ruang publik, takut direkam trus diviralkan. Bahkan dia bilang untuk biasa-biasa saja kalau didepan umum itu, ga usah terlalu mesra, mesra cukup dikamar aja. Whaatt??

See, inilah yang bikin aku harus menulis keresahan ini disini. Karena kita tau, begitu besar side effect dari fenomena perekaman diam-diam ini. Mulai dari penghakiman massal hingga merubah pola pikir masyarakat awam mengenai hal ini.
Aku harap dari sedikit tulisan yang aku bagikan ini, ada suatu perubahan mindset kalian mengenai hal ini. Mengakhiri tulisan ini, kalian yang punya pasangan sah, jangan ragu buat umbar kemesraan, itu hak kalian, itu privasi kalian, tidak ada yang bisa merusak privasi itu sendiri. Dan kalaupun kemesraan itu dilakukan bukan pasangan sah, bukan hak kalian untuk menghakimi mereka secara masal dan membabi buta, bukan ranah kalian juga untuk memvideokan privasi hubungan mereka lalu disebarluaskan hanya untuk memberi sangsi sosial pada mereka. 

Sekian dan terima gaji..






























No comments:

Post a Comment