Pages

1/22/25

Berpikir "Kritis" Di Anggap Aneh

 Sudah lama banget mau nulis salah satu keresahan yang selama ini berkutat di otakku. Terutama semenjak aku bekerja di lembaga NGO, semenjak aku suka dengan hal-hal yang berbau isu sosial maupun politik, semenjak sering nontonin podcast atau workshop yang membahas soal mental health atau isu-isu di lingkungan sekitar, jadi secara otomatis otakku switch dari yang tadinya pasif sekarang malah jadi lebih aktif buat menyuarakan hal-hal itu di duniaku dan lebih banyak omong soal ini di medsos ku sendiri.

Buat beberapa orang terdekatku sih hal ini ga mengganggu mereka sama sekali, yah walaupun mungkin mereka kurang setuju dengan pemikiranku, namun mereka masih menganggap bahwa perbedaan pikiranku ini adalah wajar dan valid. Semua orang berbeda pendapat itu sah-sah saja. Punya pemikiran berbeda dari dogma sosial yang bertentangan dengan budaya ataupun agama pun mereka ga menjudge ataupun menyalahkan. Namun untuk beberapa orang lainnya ini jadi persoalan, bukan persoalan buatku tapi menjadi persoalan bagi mereka.

Artinya, mereka menganggap bahwa aku ini terlalu berontak, terlalu apatis, melanggar norma, sok idealis, sok pintar, keras kepala, aneh, ga punya empati, orang sesat bahkan mungkin saja mereka berpikir aku ini orang bodoh. Orang bodoh yang baru saja nyemplung ke ranah baru, trus sok-sok 'an nyebar pikiran sesatnya kesana sini hanya untuk menyebarkan pemikiran bodohnya yang ga berdasar dan ga jelas.

Aku kadang bingung sih disini kalau dibilang keterbukaan pikiranku ini dianggapnya ga berdasar dan ga jelas, karena jelas aku berpikir begini ada kerangka dasarnya, ada datanya, ada informasinya yang bisa dicari di platform manapun. Bukan semata-mata aku bawa isu/masalah ini di medsosku dan aku tulis dengan sembarangan dan tidak obyektif.

Semua orang berhak kok buat menulis dan beropini sesuai dengan porsi dan pengetahuan yang orang itu miliki. Disini, aku mengangkat tema isu sosial atau politik di medsosku bukan karena aku menganggap aku pintar/bodoh sih, tapi sesuai dengan paragraf pertama yang aku tulis semua opini kamu itu valid jika kamu punya data dan pengetahuannya soal itu.

Di organisasi tempat aku bekerja, aku diajarkan buat berpikir kritis, karena memang basicnya lembaganya lebih mengedepankan kemampuan kita buat berpikir kritis dan berperspektif feminis, opini harus berbasis data dan pengetahuan sejauh yang kamu tahu dan itu harus obyektif agar tidak ada ketimpangan bias dalam menyampaikan informasi.

Maka dari itu, di tiap tulisan atau isu yang aku angkat di medsosku dilihat selalu kritikan dan informasi yang kadang berbenturan dengan nilai budaya pada masyarakat pada umumnya, itu bukan karena aku sok pintar, tapi aku mau tunjukin ini loh ada datanya bahwa ada kejadian seperti ini di lingkungan sekitar. Ini loh pengetahuan yang pengen aku share ke kalian, agar kalian bisa melihat bahwa ada sesuatu yang janggal dibalik isu sosial/politik yang terjadi di Indonesia. Aku pengen orang yang melihat apapun itu baik tulisan, video, apapun itu yang aku bagi bisa membuat orang-orang ini bisa berpikir kritis juga. Mencoba menggali informasi lain selain informasi yang udah didapat sebelumnya. Quote salah satu narsum podcast yang aku suka adalah "belajar dan belajar kembali"

Disitu dia jelaskan bahwa manusia itu ga akan bisa berhenti belajar. Akan terus berproses untuk mencari informasi baru, belajar hal baru, atau bahkan bisa belajar kembali hal yang udah dipelajari, bukan karena ga ada kerjaan, tapi lebih ke reset ulang atau bahkan mengkaji ulang lagi hal yang dianggap dulu benar sekarang bisa saja sudah salah dan perlu diperbaiki. Dengan berpikir begini aku pikir ini sama dengan berpikir kritis ala perspektif feminis yang aku pelajari di organisasi ku. Kita diminta buat melihat kembali hal/dunia lain itu dari sumber/sisi yang lain. Yang tadinya otak kita hanya berkutat di area hitam dan putih saja, namun dengan berpikir kritis ini otak kita diminta buat berpikir warna lain yang memang belum pernah ada atau memang sudah lama ada namun tertutup saja sama pikiran sempit kita.

Jadi kalau dibilang aku orangnya yang sok open minded, gpp sih, karena emang benar, aku pikir otakku sekarang jauh lebih terbuka akan informasi baru, dunia baru, hal baru. Terbuka bukan berarti menerima juga. Terkadang orang mikir istilah open minded itu dengan stigma negatif, dianggap tabu, karena pemikiran ini adalah pemikiran budaya Barat. Padahal kalau merunut ke agama pun, kita diminta loh buat terus belajar, diminta buat mencarai pengetahuan seluas-luasnya. Diminta belajar bukan buat diminta menerima segalanya secara membabi buta, namun ini salah satu practice otak kita juga. Diminta cari pengetahuan dan pengalaman juga bukan berarti kita bebas melakukan atau menerima hal lain yang negatif trus kita terima sebagai hal yang positif. Namun dari practice otak tadi, kita diminta untuk bisa melihat sesuatu yang negatif itu secara bijak dan penuh empati. Inilah yang dinamakan grey area, area yang selama ini kita anggap salah bisa saja ada hal baik didalamnya jika kita mau mempelajarinya lebih bijak lagi. Inilah proses belajar dan belajar kembali yang disampaikan narsum tersebut.

Jujur sih, beberapa orang pasti akan ke-trigger saat baca apapun itu tulisanku. Karena memang se-cablak itu. Bahkan aku sampe ditegur sama atasan kerja di lembaga karena nulis sampe seberani itu. Bukan ditegur dimarahin tapi lebih kepada mereka care dan takut dengan keterbukaan ku soal isu ini akan merembet pada hal lain yang akan merugikan aku kedepannya. Tapi sulit buat aku untuk stop bersuara. Karena makin kita diam, orang-orang ga akan tau gimana keadaaan diluar itu.

Yah memang sih bener kata lakiku juga, "kamu mau bersuara gimanapun juga, tapi kalo orang itu ga mau buka kacamata berpikir mereka, yaa selamanya omonganmu itu cuman jadi tong kosong doang"

Cukup sekian deh dan terima gaji...^^

No comments:

Post a Comment