Pages

11/12/18

Stop Child Abuse and Physical Violence

Gak tau kenapa pengen nulis topik begini padahal jujur aku gak ada bayangan sama sekali soal hal ini, eventhough aku pernah menyaksikan hal ini hanya sebatas lewat televisi dan short video aja. Biasanya pun aku gak sampe habis menonton berita child abuse atau video anak lagi disiksa fisiknya gitu di video, karena bener-bener buat aku sedih, bahkan sampe nangis. Jadi kalo ada video atau berita gitu aku skip dah, ga mau nonton sampe habis. Daripada aku menyumpah trus nangis..

Disini aku gak akan bahas tentang presentase kejadian abuse child di Indo atau perbandingan angka kematian anak karena kekerasan dari tahun ke tahun berapa, kalo kalian mau tau soal ini kalian bisa search di google aja.

Yang aku mau ceritakan disini adalah suatu kejadian yang bener-bener terjadi di sekitar aku, entah cerita dari temen, suami, ade, atau siapapun yang pernah menceritakan tentang ini ke aku.

Jujur sebagai seorang ortu dan seorang ibu, kalo anakku melakukan kesalahan, normally aku pasti cubit. Itu kulakukan kalau udah anak gak bisa ditegur atau dia melawan. Dan selama aku jadi ortu, hanya cubitan lah bentuk kekerasan yang aku lakukan keanak, dan aku gak membenarkan ini yaa. Aku cerita ini hanya bentuk ketidaksempurnaan aku sebagai ortu dalam merawat anak. Yah bilang saja aku ibu yang jahat, tidak sabaran, atau apapun, tapi disini aku gak mencoba membela diri, hanya menyampaikan apa yang aku perbuat, dan aku menyesal, aku bodoh, namun aku jujur belum bisa mengontrol emosi ku sebagai ortu.
Levelku belum sampai kaya Bunda Elly Risman (panutanku banget).

Namun ternyata diluar sana ada anak-anak yang lebih parah perlakuan kasarnya yang mereka dapat dari ortu mereka sendiri.
Seperti baru-baru ini aku dengar suami ku cerita, waktu hari Minggu disaat kami berkunjung ke rumah Kakak suami saya. Waktu kejadian aku lagi didalam rumah, dan suami lagi diluar duduk santai. Terus dia melihat kejadian yang sangat menyesakkan. Seorang anak kecil berusia 7 tahun dipukul oleh ibunya berulang kali, sedangkan dijendela adiknya yang masi berusia 2 tahun menonton kejadian itu. Dipukulnya pun gak cuman sekali, tapi berulang-ulang kali, dan itu dikepala coy. Gila yak 😤

Suamiku gak tahan lihat nya, anaknya nangis minta ampun tapi tetap dipukulin trus oleh ibunya. Aku sempat nanya suami, kenapa dia gak coba negur si ibu itu? Suami hanya bilang waktu itu posisinya lagi agak jauh dan dia merasa gak enak buat menegurnya, karena dia pikir itu termasuk dalam urusan rumah tangga orang.

Aku waktu itu hanya mikir "kalo itu bentuk kekerasan, wajar gak sih kita mencampuri urusan mereka"?

Beberapa kisah yang aku dengar pun endingnya sama, mereka hanya membiarkan tanpa ada inisiatif buat membantu anak lepas dari kekerasan itu. 
Alasannya pun sama, karena mereka ga mau ikut campur dalam urusan rumah tangga orang.

Lalu kalo udah begitu, gimana dengan si anak? gimana dengan psikologisnya dia? gimana beban mental yang harus dia terima dari kecil krn perlakuan ortunya? seberapa besar traumatik yang dialami anak, dan apakah trauma itu akan sembuh? akan jadi apakah anak kekerasan fisik ini nantinya kalau mereka sudah besar? 

Aku pernah dengar ulasan Bunda Elly tentang akibat yang ditimbulkan dari kekerasan fisik pada anak. Dan rata-rata akibat nya jauh lebih banyak negatifnya daripada positifnya. Positif akan berdampak jika si anak cepat ditangani/ditolong. Tapi kalau sudah lambat ditolong, trauma itu akan berdampak negatif pada anak, diantaranya memicu LGBT, menjadi pedofilia, pecandu narkoba, tidak percaya akan dirinya sendiri dan Tuhan, menjauh dari lingkungan keluarga terutama orang tua, dan masih banyak lagi dampak negatif dari kekerasan pada anak ini. Na'udzubillah min 'dzalik😞

Karena itulah, aku mau sebagian orang yang melihat kejadian begini didepan mata mereka, mereka harusnya lebih aware akan hal ini. Gak usah mandang urusan rumah tangga orang, tapi kita harus lihat ada masa depan seorang anak yang harus kita jaga dan lindungi. Kalo kita selalu tutup mata akan hal kaya gini, akan jadi apa anak-anak penerus kita nantinya dimasa depan.
Memang ada batas-batas dimana kita gak harus masuk dalam ranah rumah tangga orang, tapi bila itu menyangkut dengan abuse or violence kita harus mengambil tindakan. Kalo takut sendiri, kita bisa ajak orang terdekat buat bantu mencegah itu terjadi lagi.
Karena aku yakin anak yang mendapat perlakuan keras gitu sangat membutuhkan perhatian orang sekitar juga. Mereka juga butuh bantuan dari kita. Mereka juga mau hidup senang seperti anak-anak kita. Bisa bayangkan itu terjadi dilingkungan kita, lalu anak-anak korban kekerasan itu melihat keceriaan anak kita yang sedang bermain atau bercengkerama dengan orang tuanya penuh kasih sayang, bagaimana perasaan mereka melihat itu? Pasti rasa trauma dan haus kasih sayang itu makin besar, dan makin menimbulkan dampak negatif bagi si anak.

Makanya saya suka heran dengan video-video yang beredar, yang videoin lagi merekam seorang ibu/ayah/kerabat sedang melakukan tindak kekerasan dan tukang video nya diam aja, tanpa mencoba menghentikan atau membantu si anak.
Sebegitu takutkah atau sebegitu tidak pedulinya kah dengan nasib masa depan anak itu gimana.

Semoga lewat tulisan ini makin banyak orang-orang akan aware dengan kejadian ini. Paling gak kita harus merubah jalannya, jangan hanya diam saja dan menonton tanpa bisa bertindak apa-apa. Kita masih kuat dan bisa melawan ortunya atau siapapun yang melakukan tindak kekerasan itu.

Dan saya yakin masih banyak masyarakat yang berpikir terbuka akan hal ini dan mau membantu mencegah agar kejadian ini gak akan terulang lagi. Kita harus selamatkan anak-anak kita dari kekerasan seperti ini. Kalo bukan kita yang dikasi Allah pikiran dan akal yang jernih buat bertindak, sapa lagi yang akan membantu mereka, menyelamatkan masa depan mereka akan bahaya yang ditimbulkan dari kekerasan fisik ortu atau orang sekitar mereka..

^^


No comments:

Post a Comment