12/22/19
Merubah Sesuatu yang Sulit untuk Dirubah
Terkadang kita berfikir, merubah seseorang itu mudah. Baik sifat, tingkah laku, aktivitas sehari-hari, pemikiran, untuk sesuatu yang lebih baik kita pasti akan mengusahakan merubahnya. Namun setelah menjalaninya, bertahun hidup dengannya, ternyata diriku pun tidak cukup untuk merubahnya. Sampai di satu titik aku berfikir, apa yang kurang? Apa yang salah? Apa lagi yang mesti aku perbuat untuk merubah itu semua?
Baru-baru ini aku menonton sebuah film yang mengisahkan tentang sepasang suami istri yang dari luar terlihat baik-baik saja, namun ternyata jauh dilubuk hati mereka, mereka tidak bahagia, mereka merasa jauh satu sama lain. Kisahnya sangat sederhana dan klise, namun pembawaan pemain, plot nya, dialognya, semuanya sangat menakjubkan. Disampaikan secara lugas, tidak bertele-tele, jujur apa adanya, menonjolkan bahwa pernikahan itu tidak sebahagia yang dipikirkan, tidak mudah seperti yang dibayangkan. Butuh komunikasi, kepercayaan, komitmen dan tanggung jawab satu sama lain, bukan sebelah pihak saja.
Aku jadi bertanya, dari semua pesan yang disampaikan film itu, apakah dalam pernikahanku pun ada yang terlewatkan sehingga masalah yang dihadapi tidak ada perubahan?
Aku kembali merunut semuanya..
Komunikasi..
Aku tahu diriku lemah dibagian ini. Aku memang tidak banyak bicara jika berhadapan dengan masalah. Aku memilih untuk diam dan menenggelamkan semuanya ke dasar hati dan pikiran berharap masalah yang aku hadapi akan sirna dan menguap begitu saja. Namun setelah mengenal pasanganku, setelah mendapat pencerahan akan membangun relationship itu seperti apa, lewat artikel, film, buku, perlahan aku merubah nya. Perlahan kubuka sedikit pintu hati untuk menjalin komunikasi lebih intens, dan mulai membicarakannya. Perlahan memberanikan diri memulai komunikasi jika ada terjadi masalah. Karena komunikasi itu teramat penting, kita tidak bisa mengharapkan pasangan untuk peka terhadap apa yang kita rasakan. Kita yang harus menarik dan mengajak mereka berbicara, dan ini merupakan komitmen dalam suatu hubungan.
Kepercayaan..
Aku merupakan tipe wanita yang sekali mencintai akan kuberi seluruh kepercayaanku kepada pasanganku. Mungkin karena itulah, jika sekali aku dilukai akan sulit hilang lukanya. Percaya itu tidak akan hilang, namun perlahan jika suatu masalah itu terus berulang dampaknya adalah aku merasakan tidak aman akan diriku, hubunganku dengan pasangan. Muncul pikiran negatif, tidak nyaman berada disampingnya, dari sayang menjadi selalu curiga. Perlahan semua itu menggerogoti kasih sayang dan cinta, menyakiti berulang-ulang dalam hal kepercayaan itu meruntuhkan semua pondasi dan komitmen rumah tangga.
Komitmen..
Dari awal membangun rumah tangga, semua hal yang aku tulis diatas sudah menjadi satu kesatuan sebuah komitmen yang harus kami jaga. Karena komitmen ini adalah pondasi semuanya. Jika salah satu pondasi itu rusak, dampaknya akan tidak baik untuk masa depan. Akan muncul masalah-masalah lainnya, tidak saling jujur, saling menutup diri, saling jaga jarak, tidak saling membahagiakan, harapan hilang dan tanggung jawab pun menghilang begitu saja. Aku selalu menekankan hal ini dan mengulang terus kata-kata ini jika masalah terjadi. Mengingatkan kembali apa yang jadi tujuan kami awalnya, agar rumah tangga ini tidak makin rapuh dan hancur.
Lantas setelah dirunut dan disusun kembali sedaikala apakah sesuatu itu akan mudah dirubah?
Sulit untuk berharap semua akan baik saja, semua akan berubah, semua akan indah. Karena sampai detik ini pun aku tidak diberi harapan yang jelas. Aku masih bingung dan takut. Masih memikirkan apa yang harus aku lakukan jika hal itu kembali terulang. Selagi hubungan ini masih bisa dipertahankan dan dijalani, akan terus mencoba berharap. Sesulit apapun yang nanti akan aku hadapi, walau hasil terburuk sekalipun.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment